Memahami Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Melalui Pendekatan Pendidikan Karakter Berbasis Inklusivisme, Humanisme dan Toleransi.”

 

Oleh :

Dede Musa Samsul Huda, M.Ag

 

Islam adalah agama yang diturunkan ke bumi melalui malaikat jibril kepada nabi Muhammad saw. dengan sederet misi yang agung nan suci guna menjaga dan memperbaiki kualitas hidup manusia agar menjadi lebih baik dan bermanfaat baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Misi suci ini ditugaskan kepada nabi Muhammad sebagai media interpretasi dari firman-Nya agar tidak menimbulkan kebingungan dan terbebaninya manusia sehingga Allah memilih para nabi sebagai penyampai misi agung ini.

Misi yang memuat banyak nilai-nilai kebaikan, seperti cinta, kasih sayang, harmonis, toleransi dan keseimbangan bertujuan untuk menjadi pengontrol sekaligus pengantar manusia dalam perjalanan hidupnya di bumi ini dalam waktu yang singkat demi menikmati dan menjalani kehidupan kekal setelahnya. Untuk mencapai dan mendapatkan kehidupan yang bahagia itu manusia dituntut untuk menjalani kehidupan di bumi dengan mengikuti dan mentaati semua perintah dan larangan-Nya. Baik (ibadah) yang bersifat zahir maupun batin (iman, islam dan ihsan).

Berkaitan dengan diutusnya Nabi Muhammad untuk menyampaikan risalah kebenaran juga sebagai rahmat bagi alam semesta (QS. al-Anbiya: 107). Makna rahmat disini yaitu kasih sayang, sehingga nabi Muhammad diutus untuk memberikan kasih sayang bagi alam semsta. Alam semesta yang terdiri dari manusia, hewan, dan tumbuhan. Untuk merealisasikan rahmat itu nabi Muhammad memberikan contoh yang baik kepada umatnya melalui pendekatan karakter/akhlakul karimah. Seperti berbuat baik kepada fakir miskin, saling menghargai antar sesama bahkan kepada non muslim sekalipun. Mencintai hewan dan tidak pernah menyiksa hewan serta tidak melakukan pengrusakan terhadap alam, seperti pencemaran lingkungan, illegal loging dan sebagainya. Rasulullah telah menggambarkan hakikat islam rahmatan lil alamin secara gamblang dan komprehensif. Memiliki sifat lemah lembut, jujur, adail, toleransi, berpikir terbuka,  tegas, bertanggung jawab merupakan citra islam yang melekat pada diri rasulullah saw.

 

Salah satu upaya pemerintah dalam merealisasikan program pendidikan nasional salah satunya penekanan program tersebut melalui pendidikan karakter. Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain. Dalam islam karakter padanan kata dari akhlak, yang penekanannya pada perilaku, kebiasaan, dan kepribadian seseorang.

Perkembangan zaman yang begitu pesat ditandai dengan majunya teknologi baik yang barbasis informasi maupun barbasis tarnsportasi mendorong manusia untuk selalu meningkatkan kemampuannya agar bisa mengimbangi zaman yang up to date. Sehingga semua keahlian dan pengetahuan  yang berbau teknologi harus dikuasi agar bisa bersaing dengan orang lain. Yang masa bodo akan ketinggalan dan yang melek mengalami progress.

Namun sayangnya, peningkatan kualitas manusia ini meninggalkan segudang masalah yang sangat berat. Aspek kognitif yang selalu di upgrde namun aspek afektif terlupakan bahkan yang lebih parahnya lagi aspek spiritual mengalami kemerostan tajam yang ditandai dengan dekadensi moral bangsa, seperti maraknya korupsi, tingginya angka pencurian, bullying di kalangan remaja maupun dewasa, tawuran, pemerkosaan, seks bebas, rasisme, dan diskriminasi yang selalu menghiasi kancah pertelevisian Indonesia. ini menendakan bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja alias sedang sakit.

Memahami islam rahmatan lil alamin melalui pendekatan pendidikan karakter merupakan sebuah langkah nyata dan strategis dalam membantu merealisasikan program pemerintah khususnya pada lini pendidikan sehingga diharapkan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap siswa. Siswa harus memiliki sikap inklusif, humanis dan toleran sebagai bekal dan modal dalam berperilaku di masyarakat.

Inklusif merupakan sebuah sikap yang memiliki pemikiran terbuka dan wawasan yang luas dalam mensikapi perbedaan serta mampu menerimanya. Inklusivisme lawan kata dari eksklusivisme yang bermakna tertutup, statis atau tidak tercampur. Karakter inklusif sangatah penting untuk dimiiki sebagai upaya memandang dunia yang luas. Adapun humanisme merupakan sebuah faham yang meyakini bahwa manusia merupakan mahluk yang bebas, kombinasi logika dan nurani serta pusat control perubahan. Memiliki karakter humanis tentunya sangatlah penting, mengingat langkanya sisi kemanusiaan di zaman ini yang lebih didominasi oleh sikap apatis dan apriori yang menjadi penyebab kedzaliman dan kehancuran yang disengaja. Sisi kemanusiaan ini harus dibangun guna menjadi manusia yang manusiawi. Sedangkan toleransi adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan orang lain.

Pengetahuan dan wawasan seperti ini akan membantu dalam mengurangi aksi diskriminasi yang selama ini selalu menjadi isu yang sensitif. Pun demikian dengan aksi bullying, pemalakan, pencurian, tawuran pelecehan verbal maupun non verbal yang terjadi di sekolah. Namun itu tidak akan terjadi jika semua elemen berperan aktif dan peduli dalam membangun karakter yang berbasis keagamaan, khusunya agama islam.

Oleh karena itu pentingnya pendidikan karakter yang dilandasi dengan keimanan tidak akan pernah mengalami kegagagalan, hal itu dikarenakan agama ikut berperan dalam membangun karakter yang berfungsi sebagai kontrol dan referensi. Dengan demikian citra islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya akan tampak secara sempurna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Hipnoterapi